CERITA SEX – NGENTOT DENGAN SEPUPUKU

CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-SEPUPUKU
CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-SEPUPUKU

CERITA SEX – NGENTOT DENGAN SEPUPUKU


CERITA SEX – NGENTOT DENGAN SEPUPUKU – Bekerja sebagai Design-er di perusahaan sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi kalau ada Proyek-proyek yang kompleks serta wajib segera dibereskan. Mau tidak mau, aku wajib mencurahkan perhatian ekstra.

Maklum, aku telah berkeluarga serta punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung sebab istiku punya usaha dagang di sana. Tapi lama kelamaan semua itu membikinku bosan. Ya…di Bekasi ini, mesikipun aku merantau, nyatanya aku punya tidak sedikit saudara serta sebab kesibukan aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka.

Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Karto, sepupuku. Kami pun bercanda ria, sebab lama sekali kami tidak kontak. Mas Karto bekerja di salah satu perusahaan minyak asing, serta saat itu dirinya kasih tau kalau minggu depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut, mengantar logistik sekaligus menolong pembetulan salah satu peralatan rig yang rusak.

Dan dirinya memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, sebab rumah Mas Karto lumayan jauh dari tempat kostku Aku di bilangan Bekasi, sedangkan Mas Karto di ciputat. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, sebab kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.

Hari Kamis minggu berikutnya aku ditelepon Mas Karto untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Karto istrinya, mbak Vivi, bahagia kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat kawan ngobrol serta kawan main anak-anaknya. Mereka berdua telah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 5 SD, serta yang bungsu kelas 3 SD.

Usia Mas Karto 38 tahun serta mbak Lala 35 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak beda jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Vivi, aku telah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya. Khususnya semenjak aku bekerja di Bekasi ini. Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon

Seusai makan siang, aku telepon mbak Vivi, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, sebab mbak Vivi biasa pulang naik kereta.
“kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu argumen Mbak Vivi. Serta jam 17.00 aku berjumpa Mbak Vivi di stasiun. Tidak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Lumayan penuh, tapi aku serta mbak tetap dapat berdiri dengan enjoy. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi faktor itu nyatanya tidak berjalan lama Lepas stasiun J, kereta sangatlah penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser serta berhadapan dengan Mbak Mbak Vivi. Inilah yang kutakutkan…! Berbagai kali, sebab goyangan kereta, dada montok Mbak Vivi menyentuh dadaku. Ahh…darahku rasanya berdesir, serta mukaku berubah agak merah.

Rupanya Mbak Vivi menonton perubahanku serta ?ini konyolnya- dirinya merubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Sebab sempitnya ruangan, si “Joni”-ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya dapat berdoa semoga “Joni” tidak bangun.

Kamipun tetap mengobrol serta bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalgi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga “Joni”-ku. Makin lama makin keras, serta aku yakin Mbak Vivi dapat merasakannya di balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku dapat meremas dada serta pinggulnya yang montok itu.. oh… alangkah nikmatnya. Akhirnya hingga juga kami di Ciputat, serta aku bersyukur sebab siksaanku beres. Kami kemudian naik angkot, serta sepanjang jalan Mbak Vivi diam saja. Hingga dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh..) serta kemudian makan malam bersama keponakanku. Beres makan malam, kami bersantai, serta tidak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.

“Rian, mbak mau bicara sebentar”, katanya, tegas sekali.
“Iya mbak.. kenapa”, sahutku bertanya. Aku berdebar, sebab yakin bahwa mbak bakal memarahiku dampak ketidak sengajaanku di kereta tadi.
“Mbak tau kok perubahan kamu di kereta. Kamuu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan semacam menahan rasa jengkel.
“Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”

“MMm.. maaf, mbak..”, ujarku terbata-bata.
“Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. aku tidak tahan”
“Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan hingga terulang lagi. Tidak sedikit cara untuk mengalihkan pikiran ngeres Kamu itu. Paham?!” bentak Mbak Vivi.
“Iya, Mbak. aku paham. Saya janji tidak ngulangin lagi”
“Ya sanaa. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak.” Sahutnya. Rupanya, tensinya telah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Sebab bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Vivi sedang baca novel sambil tiduran. Dirinya menggunakan daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya. Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Vivi betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun segera menyetel VCD serta berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah sebab lelah alias sejuknya ruangan, alias sebab apa akupun tertidur. Tidak lebih lebih 2 jam, serta aku terbangun. Film telah beres, Mbak Vivi juga telah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti dirinya capek banget, pikirku.

Saat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Vivi yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kanan terangkat keatas sangatlah membikin jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus, sebab dasternya sedikti tersingkap. Mbak Vivi berkulti putih kemerahan, serta warna itu makin membikinku tidak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku pun timbul..

Perlahan, kubelai paha itu.. lembut.. kusingkap daster itu samapi pangkal pahanya.. serta.. AHH… “Jonii”-ku mengeras seketika. Mbak Vivi nyatanya menggunakan CD mini warna merah.. OHH GOD.. apa yang wajib kuperbuat… Aku hanya menelan ludah menonton pantatnya yang tampak menggunung, serta CD itu nyaris semacam G-String.

Aku bener-bener terangsang menonton pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati, sebab Mbak Vivi istri sepupuku sendiri, yang mana sebenarnya wajib aku kawani serta aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.

Tetapi godaan syahwat terbukti mengalahkan segalanya. Tidak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, serta tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Aku bingung.. wajib kuapakan.. sebab aku tetap ada rasa was-was, takut, kasihan… tapi sekali lagi godaan birahi terbukti dahsyat.

Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Vivi bangun. Sllrrpp.. mmffhh… sllrrpp… nyatanya memeknya lezat juga, ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit, jadi hidungku tidak geli bahkan bebas menikmati bau memeknya.

Entah setan apa yang menguasai diriku, tahu-tahu aku telah mencopot seluruh celanaku. Seusai “Joni”-ku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke memek Mbak Vivi. Agak sulit juga, sebab posisinya itu. Serta aku hasrus ekstra hati-hati agar dirinya tidak terbangun. Akhirnya “Joni”-ku sukses masuk.

Ahhhhh… hangat rasanya.. sempit.. tapi licin… semacam piston di dalam silinder. Entah licin sebab Mbak Vivi mulai horny, alias sebab ludah bekas jilatanku.. entahlah. Yang pasti, kugenjot dia.. naik turun pelan lembut.. tapi nyatanya nggak hingga lima menit.

Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul serta pantatnya, kehalusan kulitnya, jadi pertahananku jebol. Crroott… ccrroott.. sseerr.. ssrreett.. kumuntahkan maniku di dalam memek Mbak Vivi. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Seusai habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.

“Mmmhh… kok dicabut Batangnya..” suara Mbak Vivi parau sebab tetap ngantuk.
“Gantian dong..aku juga pengen..”

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

“Wah.. celaka..”, pikirku.
“Ketahuan, nich…” Benar saja! Mbak Vivi membalikkan badannya. Seketika dirinya begitu terkejut serta dengan cara refleks menampar pipiku. Rupanya dirinya baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Karto, melainkan aku, sepupunya.
“Kuranggg ajar kamu, Riann”, makinya.
“KELUAR KAMU…!”

Aku segera keluar serta masuk kamar tidur tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah.. takut.. malu.. apalagi kalau Mbak Vivi hingga lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah.. terbayang jelas di benakku agenda Buser… malunya aku.

Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang dapat membikinku mengantuk. Serta entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa “Joni”-ku semacam lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Nafas hangat serta lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.. serta..

“Mbak Vivi..jangan”, pintaku sambil aku hebat tubuhku.
“Riann..” sahut Mbak Lala, setengah terkejut.
“Maaf ya, kalau tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamuu tidak pake celana, ngaceng lagi.”
“Kamu maunya apa?” Mbak Vivi bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi dirinya marah-marah, sekarang kok.. jadi begini..
“Riann.. sehabis marah-marah tadi, Mbak bersihin memek dari sperma kamu serta disiram air dingin agar Mbak tidak ikutan horny. Tapi… Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum sempat ngeliat kayak punya kamu. Imut, tapi di meki Mbak kerasa tuh.” Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menantikan jawabanku, dikulumnya penisku seketika jadi aku tersentak dibuatnya. Mbak Vivi begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok hingga ke kerongkongannya.

Secara refleks, Mbak naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami sekarang 69. Serta, Ya Tuhan, Mbak Vivi telah melepas CD nya. Aku menonton memeknya makin membengkak merah. Clistorisnya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat serta dihisap. Tidak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku..

“SSshh.. ahh.. Ria…nnnnn.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh” Mbak Vivi merintih menahan nikmat. Akupun menikmati memeknya yang nyatanya bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.

“Itilnya.. dong…Riannn. mm.. IYAA… AAHH… … AMPUUNN Riann..”

Mbak Vivi makin keras merintih serta melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar serta tidak beraturan. Memeknya makin memerah serta makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil semakin menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah serta jariku tetap kalah dengan kelihaian lidah Mbak Vivi. Buktinya aku merasa ada yang mendesak penisku, seolah mau menyembur.

“Mbak… mau keluar nih…” kataku.

Tapi Mbak Vivi tidak mempedulikan ucapanku serta makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin tidak tahan serta.. crrootts… srssrreett… ssrett… spermaku muncrat di muutu Mbak Vivi. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya serta menelan sisanya.

“Riannn.. kamuu udahhh keluar.. Mbak belum kebagian nih…” pintanya.

Aku hanya dapat meringis menahan geli, sebab Mbak Vivi melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku semacam menuruti kemauan Mbak Vivi. Apabila tadi langsung lemas, nyatanya hari ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin sebab pengaruh lendir memek Mbak Vivi sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil serta cairan memeknya, aku jadi mudah terangsang lagi.

Tiba-tiba Mbak Vivi bangun serta melepaskan dasternya.

“Copot bajumu semua, Rian” perintahnya.

Aku menuruti perintahnya serta terperangah menonton pemandangan indah di depanku. Buah dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting serta ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu sangatlah tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Segera Mbak Vivi berlutut di atasku, serta tangannya mengajar penisku ke celah memeknya yang panas serta basah. Bless… sshh…

“Aduhh… Riann… Batanggmu keras banget yah…” rintihnya.

Mbak Vivi dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek dampak memeknya yang basah makin keras. Tidak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang, rakus.

Mbak Vivi makin keras goyangnya, serta aku merasakan tubuh serta memeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Vivi makin cepat, cairan memeknya membanjir, nafasnya memburu serta sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya tertahan.

“MMFF… SSHSHH.. AAIIHH… OUUGGHH… RIANNN… MBAK KELUAARR… AAHHSSHH…”

Mbak Vivi menjerit serta mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah diraihnya. Memeknya terasa sangat panas serta gerakan pinggulnya demikian liar jadi aku merasakan penisku semacam dipelintir. Serta akhirnya Mbak Vivi ambruk di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.

Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku tetap sanggup bersi keras… Tidak disangka, seusai istirahat sejenak, Mbak Viviberdiri serta duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang serta kedua tangannya menyangga tubuhnya.

“Riannn, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya tegangg Bangettt..” pintanya setengah memaksa.

Apa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek serta itilnya. Memek Mbak Vivi mulai memerah lagi, itilnya langsung menegang, serta lendirnya tampak mambasahi dinding memeknya.

“SShh.. mm.. Riannn.. kamu jail banget siicchh… oohh…” rintihnya.
“Masukin aja, Sayangg… jangan siksa aku, pleeaassee…” rengeknya.

Mendengar dirinya merintih serta merengek, aku makin bernafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang terbukti tetap tegak ke memeknya yang nyatanya sangat becek serta terasa panas dampak tetap memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul serta memutar.

Mbak Vivi mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tidak lupa jari tengahku memainkan serta menggosok clitorisnya yang nyatanya sangatlah sekeras serta sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, serta tampaklah celah itu menganga kemerahan.. basah sekali..

Gerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Vivi makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang serta gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar serta mengejang bergantian. Celah memek itu makin becek, terkesan lendirnya meleleh dengan derasnya, serta segera saja kusambar dengan lidahku.. direguk habis semua lendir yang meleleh. Pasti saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Vivi, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di memeknya.

Kupandangi memek itu lagi, serta aku menonton ada semacam daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seakan-akan hendak keluar dari memeknya. Serta nafas Mbak Vivi tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. serta ssrr… ceerr.. aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari memeknya.

“Mbak.. udah keluar?”, tanyaku.
“Beluumm..,Riannnn.. ayo sayang.. masukin Kontool kamu… aku hampir sampaaii..” erangnya.

Rupanya Mbak Vivihingga terkencing-kencing menahan nikmat. Dampak pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari penisku, serta segera saja aku memompa Memekk Mbak Vivi sekuat tenaga serta secepat aku mampu, hingga akhirnya..

“RIANNN… AKU KELUAARR… OOHH… SAYANG… MMHH… AAGGHH… UUFF…”, Mbak Vivi menjerit serta mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.

Bola matanya tampak memutih, serta aku merasa jepitan di penisku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku..

“Mbak.. aku mau muncrat nich..” kataku.
“Keluarin sayang… ayo sayang, keluarin di dalem… aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi…” pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku serta meremas pinggulnya.

Seketika itu juga.. Jrruuoott… jrroott… srroott..

“Mbaakk.. MBAAKK… OOGGHH… AKU MUNCRAT MBAAKK…” aku berteriak.

“Hmm.. ayo sayang… keluarkan semua… habiskan semua… nikmati, sayang… ayo… oohh… hangat… hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh…” desah Mbak Vivi manja menggairahkan.

Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Sangatlah malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.

“Sayanggg, makasih ya… kalian dapat melepaskan hasrat ngesex ku..” Mbak Vivi tersenyum puas sekali..
“He-eh.. Mbak.. aku juga..” balasku.

“Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Semakin terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen ngesex dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tidak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kami kalau hingga tahu.”

“Waahh.. nakal juga kau ya…” kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.
“Aku tidak nyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang cita-cita kalian jadi kenyataan kan?”

“Iya, Mbak. Makasih banget.. aku boleh ngesex serta menikmati semua tahap tubuh Mbak.” Jawabku.

“Kamu pengalaman ngesex pertamaku, RIAN. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak ngesex dengan laki-laki tidak hanya Mas Karto. tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Karto jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Karto juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi join sama masmu itu” sahutnya.

“Semakin, kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?” aku bertanya.
“Ini pertama kalinya aku ngesex hingga terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari serta kontolmu itu. Suer, baru hari ini Mbak ngesex hingga Orgassmee segala. kamu nggak jijik?”

“Ooohh.. itu toh..? Kenapa wajib jijik? Justru aku makin horny ingin ngesex lg..” aku tersenyum.


CLICK VIDEO >>> STREAMING BOKEP <<< CLICK VIDEO

CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-SEPUPUKU


Cerita seks, cerita dewasa, cerita bokep, bokep, cerita porno, cerita ngentot, cerita hot, cerita panas, cerita mesum, cerita desahan hot, cerita sex hot, Cerita dewasa desahan, Cersex tante tetangga rumah, cerita sex desahan hot, cerita desahan, cerita abg indo, cerita tante, cerita sex tante, cerita sedarah, cerita porno, cerita sex pacar, cerita sex paksa, cerita sex anal, cerita, cerita sex tentangga, kisah sex remaja, kisah bokep abg, cerita sex sekolah, bokep asia, bokep jepang, bokep mesum, bokep hot, bokep abg, bokep sma, bokep perawan, bokep tante, streaming bokep, bokep sange, bokep sedarah, bokep online, cerita sex tante sange, cerita sex orgasme, cerita sex sepupu, cerita sex sedarah