CERITA SEX – NGENTOT DENGAN KEPONAKAN

CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-KEPONAKAN
CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-KEPONAKAN

CERITA SEX – NGENTOT DENGAN KEPONAKAN


CERITA SEX – NGENTOT DENGAN KEPONAKAN – Fanny ternyata sekota dengan saya di pulau Bali, umurnya baru 18 tahun, pelajar SMA yang terkenal di kota saya. Fanny atau Ny , gadis berkulit putih, tinggi 185 cm, berat 50 kg dan ukuran buah dadanya saya perkirakan 35B, Awal perkenalan saya dengan Fanny, kami janji bertemu di rental internet favorit saya dekat mall.

Hallo.. Om yang namanya Candra?” tanya seorang gadis SMU pada saya.
“Iya.. Fanny ya?” tanya saya kembali padanya sambil memperhatikan wajahnya yang manis, rambut hitam lurus sebahu dan masih memakai seragam SMU-nya.
“Lagi ngapain Om?” tanyanya sambil duduk di kursi sebelah saya.
“Ya, panggil juga saya dengan Fanny” jawabnya sambil mepet melihat ke arah monitor komputer.
“Oke, Fanny bolos sekolah ya, jangan keserinngan bolos loh” nasehatku.
“Enggak kok,lagi nggak ada guru, lagi ada rapat tuch”

Wangi juga bau parfumnya, mana rok abu-abunya span lagi, si boy jadi bangkit nich. Wah, kalo bisa ngewe sama Fanny, asyik juga.. Huh dasar lagi mumet nich otak, maunya si boy saja.

“Can, Fanny boleh tanya nggak?”
“Boleh aja, fair, mau nanya apa?”
“Kalo Tamunya ceweknya Candra ngajak jalan-jalan, bayar nggak?”
“Oh itu, ya terserah ceweknya, pokoknya keliling Bali ditanggung senang dech”
“Masalah hotel, akomodasi dan lain-lain ditanggung tamu, gitu”
“Kalo ML gimana?” tanya Fanny antusias.
“Kalo ML sich, terserah tamunya,
“Biasanya Candra selama ini dibayar berapa sich?”
“Ya, kira-kira 500 ribu sampai 1 jutaan”

“Itu berapa hari?”
“Terserah tamunya aja mau berapa hari, okey, puas?”
“Mmh..” guman Fanny seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.
“Kalo Fanny udah pernah dicium belum atau udah pernah Ngentot *Maaf?” tanyaku.
“Ih, si Om nanyanya gitu”
“Ah, nggak usah malu sama sayaa, ceritain aja”
“Belum sich Can, cuma kalo nonton BF sering”
“Jangan ditonton aja, praktek dong sama pacar” tantang saya sambil menepuk pundaknya.

“Pacarnya Fanny itu agak aneh kok”
“Gimana kalo praktek sama Candra, ditanggung senang dan tidak bakalan hamil”
“Hush, jangan aneh-aneh Can, Fanny udah punya pacar lho”
“Nggak aneh kok, kalo praktek pacar-pacaran” rayu saya, sepertinnya ada peluang nich. Saya harus merayunya supaya Fanny tidak ragu-ragu lagi.
“Iya sich, tapi..” jawabnya ragu-ragu.

Setelah selesai Berbincangg, saya berencana mengajak Fanny ke pantai Kuta, siapa tahu ada kesempatan, ya nggak pembaca. Ternyata Fanny itu tinggal bersama ibunya yang masih berusia 35 tahun dan suaminya tugas keluar pulau selama beberapa bulan.

“Mau nggak ke pantai jalan-jalan, tadi Fanny naik apa?”
“Naik mobil, pake mobil Fanny aja” ajaknya bersemangat sambil menggandeng tangan saya seperti Om dan keponakannya.

Ternyata mobilnya memakai kaca rayban gelap dan ber-AC lagi, jadi siang itu kami meluncur ke pantai Kuta dan sebelumnya kami membeli beberapa camilan dan saya juga membeli kondom, biasa.. he.. he..

Fanny menjalankan mobil dengan santai, tapi saya jadi tegang terutama si boy dan bukan mobilnya yang jalan santai yang membuat saya tegang, rok abu-abunya itu lho. Sudah span, pas duduk dalam mobil otomatis bertambah pendek saja hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

“Eh, Cand kok bengong, ngelamun jorok ya?”
“Eh.. Eh.. Nggak juga” jawab saya tergagap-gagap.
“Terus kenapa Liatin pahanya Fanny terus”
“Badanmu itu bagus kok, rajin fitnes ya?”

“Pasti, supaya badan Fanny tetap fit dan seksi. Gimana, seksi nggak?” tanyanya tersenyum.
“Seksi bo! Eh Fanny parkir aja yang di pojok tuch” tunjukku pada sebuah pojokan, agak menjauh dari jalan raya dan terlindungi oleh pepohonan, asyik nih siapa tahu bisa indehoy.
“Bagus juga tuch tempatnya” jawab Fanny setuju sambil memarkirkan mobilnya hingga pas dengan lebatnya pepohonan, yang kalau dari jalan raya tidak kelihatan dan juga tempatnya sepi, jauh dari pemukiman dan lalu lalang orang, paling-paling orang yang berjalan di pantai, itupun agak samar-samar.

Mudah-mudahan pembaca tidak bingung membayangkan ilustrasi tempat yang saya ceritakan. Setelah Fanny parkir, kami saling curhat tentang masalah pribadi Fanny yang belum pernah ML dan ibunya yang sering kesepian ditinggal suaminya pergi.

“Ngomongnya nggak enak ya kalo kita berjauhan begini”
“Maksud Candra..”
“Fanny duduk aja dekat Candra”
“Tapi kursi itu kan cuma satu”
“Ayo dong Fanny, duduk sini kupangku” rayu saya sambil menarik tangan kanannya.
“Malu ah, dilihat orang” jawabnya ragu-ragu sambil melihat ke arah pantai.

“Berarti kalau nggak ada orang nggak malu dong” ujarku sambil menarik tangannya agar mendekat pada saya.
“Ya.. Nggak gitu” jawabnya ragu-ragu.
“Saya udah jinak kok apalagi si boy ini paling jinak” goda saya lagi sambil menunjuk kontol saya yang sudah agak menggembung.
“Ih jorok ih” jawabnya tertawa pelan.

“Mau nggak?”
“Emm.. Bagaimana ya”
“Mau dech..” dan akhirnya dengan paksaan sedikit dan si Fanny yang ragu-ragu untuk duduk, saya berhasil menariknya bahkan Fanny duduk dengan sedikit ragu.

Saya pangku Fanny sambil melihat kembali ke arah pantai. Posisi Fanny yang saya pangku menyamping hingga kalau melihat ke pantai agak menoleh sedikit. Posisi itu sungguh enak dan kelihatan si Fanny juga menikmatinya, kelihatan dari tangan kanannya yang melingkar pada bahu saya.

“Oh ya, Candra mau nanya hal pribadi, boleh nggak?”
“Boleh aja, Fanny itu orangnya terbuka kok” jawabnya sambil menggeser pantatnya supaya tidak terlalu merosot.

Wah si boy saya jadi berdiri gara-gara si Fanny memperbaiki posisi duduknya hingga pantatnya yang semok semakin mepet sama si boy.

“Fanny pernah nggak Ngentot?”
“Mmh.. Gimana ya” jawab Fanny ragu-ragu sambil menggigit jari kelingking tangan kirinya.
“Ceritain dong..” bujuk saya sambil mengelus pahanya yang masih terbungkus rok abu-abunya yang mini.

Lumayanlah sebagai permulaan pemanasan, ini kesempatan kalau Fanny mau ngentot sama saya dan kalau tidak mau paling ditolak atau ditampar atau ditinggalkan, tapi dari perasaan saya sih, sepertinya mau.

“Pernah sih sama pacar, tapi itu dulu sebelum putus”
“Kok putus, kenapa emangnya?” tanyaku sambil tangan kiri saya memegang pinggangnya yang langsing.
“Sebetulnya Fanny sayang sama dia, kalau cuma untuk ngentot sich tidak apa-apa”
“Yang penting pake kondom supaya aman”
“Terus apa masalahnya?”

“Ya itu, ngewenya agak aneh, masak Fanny diikat dulu”
“Wah, itu sich namanya ada kelainan namanya, harusnya dengan lembut”
“Oh ya, Candra kalau making love sama tamunya secara lembut ya”
“Tentu saja, maka banyak cewek yang senang dengan cara yang romantis dan lembut”
“Asyik dong”

“Mau nyobain nggak?” tantang saya sambil mengelus tangan kirinya yang ternyata sangat halus.
“Wuhh.. Maunya tuch” jawab Fanny mencibirkan bibirnya yang seksi.
“Pegang aja boleh nggak ya?” tanya saya mengiba dan tangan kanan saya mulai mengelus-ngelus pahanya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dengan lembut.
“Emh.. Gimana ya.. Dikit aja ya” jawab Fanny mengejutkan saya yang tadinya cuma bercanda, eh tidak tahunya dapat durian runtuh.
“Fanny, mau bagian mana dulu?” goda saya sambil mengelus punggungnya yang halus.
“Ih genit ah..” candanya manja.

Saya naikkan tangan kanan saya mencoba menjamah payudara kirinya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dan kelihatannya tidak ada penolakan dari Fanny. Dengan perlahan lehernya saya cium perlahan dan jamahan tangan saya berubah menjadi remasan supaya membangkitkan gairahnya. Ternyata Fanny adalah tipe cewek yang libidonya cepat naik.

“Geli.. Can..” rintihnya pelan, tangan kirinya membantu tangan kanan saya untuk lebih aktif meremas payudara kiri dan kanannya secara bergantian. Lehernya yang putih saya cium dan jilat semakin cepat.
“Sst.. pe.. lan.. Can..”

Setelah beberapa menit, tiba-tiba Fanny menurunkan tangan saya dan tangannya dengan terampil melepas tiga kancing atas bajunya serta mengarahkan tangan saya masuk ke dalam baju seragam dan tangan kirinya mengusap pipi saya. Tangan kananku yang sudah separuh masuk baju seragamnya langsung masuk juga dalam BH-nya yang ternyata berwarna putih polos. Gundukan payudaranya ternyata sudah keras dan tanpa menunggu aba-aba saya remas payudaranya dengan perlahan, kadang-kadang saya pelintir puting susunya.

“Can.. Sst.. Mmh.. Yang ki.. ri.. sst..” rintihnya pelan takut kedengaran.
“Fanny, boleh nggak saya ci..” belum sempat habis pertanyaan saya, Fanny sudah mencium saya dengan lembut yang kemudian saya balas ciumannya.

Semakin lama lidah saya mencari lidah Fanny dan kami pun berciuman dengan mesra, bahkan saling menjilat bibir masing-masing. Sambil berciuman, kancing baju atas seragam Fanny yang tersisa itu pun langsung saya lepas hingga tampaklah payudaranya dengan jelas.
Kembali saya cium payudaranya. Selama beberapa menit berciuman, kuluman dan hisapan pada putingnya membikin Fanny bertambah merintih dan mendesis, untung saja pada saat itu masih sepi dan bukan hari libur atau hari minggu.

“Mmh.. gan.. ti.. sst.. kiri.. sstt..” rintih Fanny memberi aba-aba sambil tangan meraih kepala saya dan menggeser serta menekan pada payudaranya.
“Ter.. Us.. Sst.. Can..”

Tangan kanan saya yang sedang berada di pusarnya turun merayap masuk ke dalam rok abu-abunya dan mengelus vaginanya yang masih terbungkus CD searah jarum jam.

“Sst.. Terus.. Can” rintih Fanny yang ikut membantu menyingkapkan rok abu-abu SMU-nya ke atas hingga pantatnya yang putih menyentuh paha saya yang masih terbungkus celana jins.

Setelah beberapa saat, saya masukkan tangan kanan ke dalam CD putihnya yang ternyata ditumbuhi bulu halus yang terawat rapi dan saya usap beberapa menit.

“Sst.. Can.. Ge.. Li.. Mmh..” gumam Fanny pelan sambil matanya menatap setengah sayu. Gerakan jari tangan saya keluar masukkan ke dalam vaginanya yang mulai basah.
“Mmh.. Sst.. Enak.. Can.. Te.. Rus.. Agak cepe.. tan.. Sst”
“Sst.. Ya.. Nah.. Sst.. Gitu” rintih Fanny yang kelihatan mulai terangsang hebat.

Tangan kiri saya yang tadinya hanya mengusap-usap pinggangnya jadi aktif mengusap payudara kirinya dan saya percepat permainan tangan pada vaginanya dan tiba-tiba saja Fanny menjepit tangan saya dan disusul keluarnya cairan putih, berarti Fanny telah orgasme yang pertama.

“Mmh.. Nikmat juga ya rasanya Can” gumam Fanny sambil memandangku sayu.
“Mau nggak ngerasain si boy?” bujuk saya melihat Fanny yang sedang terangsang berat.
“Mmh..” gumannya pelan, agak ragu Fanny menjawab tapi akhirnya Fanny pindah ke belakang mobil, wah tambah asyik nich.

Saya juga berpindah ke belakang mobil sambil melepas celana jins serta CD saya hingga bagian bawah saya bugil dan atasnya masih memakai kaos, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang lewat.

“Can.. Pelan aja” guman Fanny pelan sambil melepas CD putihnya hingga Fanny sekarang bagian bawah atasnya juga bugil cuma memakai baju seragam SMU-nya tanpa BH.
“Ya, Sayang, kupakai kondom dulu ya supaya aman” jawab saya sambil mengambil posisi duduk menghadap ke depan dan mengarahkan Fanny dalam posisi saya pangku serta menghadap saya. Pantatnya yang semok saya pegang dengan kedua tangan dan memberi arahan pada Fanny.
“Pegangin si boy, ya tangan kanan” pinta saya pada Fanny yang memegang kontolku dan mengarahkan ke vaginanya yang masih sempit.
“Nanti Fanny dorong ke bawah ya, kalau udah pas kontolnya”
“Aduh.. Sakit..” rintih Fanny karena kontol saya meleset pada bibir vaginanya.

Kembali saya arahkan kontol pada lubang vaginanya, pada usaha keempat, bless akhirnya masuk kepala dulu.

“SsSt.. Pe.. Lan.. Can..” Rintih Fanny sambil memegang tangan kiri saya dengan tangan kanannya dan mengigit bibir bawahnya dengan pelan.
“Pertamanya sakit kok, tapi agak lama juga enak” rayu saya sambil mendorong pinggulnya ke bawah hingga lama kelamaan, bless..
“Akhh..” jerit Fanny lirih karena kontol saya semuanya masuk dalam vaginanya.
“Gimana rasanya?”
“Sakit sich, tapi.. Geli..” gumam Fanny mencium saya dengan lembut. Dengan perlahan saya sodok vaginanya naik turun hingga Fanny mendesis lirih.
“Sst.. Agak.. ee.. tengah.. sst..” rintih Fanny lirih sambil menggoyangkan pinggulnya hingga sodokan dan goyangan itu menimbulkan bunyi clop.. clop.. clop.., begitu kira-kira.

Semakin lama sodokan saya percepat disertai dengan goyangan Fanny yang makin Riar hingga tangan saya kewalahan menahan posisi vaginanya agar pas pada kontol saya yang keluar masuk makin cepat. Bahkan payudaranya bergoyang-goyang ke atas ke bawah, kadang membentur muka saya, sungguh nikmat sekali pembaca sekaRian.

“Barengan ya keluarnya ya.. Mmh..” perintah saya pada Fanny karena sepertinya lahar putih saya sudah sampai puncaknya, jadi saya berusaha bertahan beberapa menit lagi.
“Mmhm.. Sst.. Ya.. Can..”
“Ce.. Petan.. Sst.. Can..” rintih Fanny sambil memeluk dan menjepit saya dengan keras. Rupanya Fanny sudah mencapai puncaknya dengan goyangannya yang makin keras.
“Ssrtss.. Seka.. Rang.. Sst.. Akhkk..” jerit Fanny karena keluarnya cairan putih itu yang berbarengan dengan bobolnya pertahanan saya, secara bersaman kami saling memeluk menikmati sensasi yang luar biasa itu.

Beberapa saat kami masih berpelukan disertai tetesan keringat membasahi badan padahal mobil masih menjalankan AC-nya hampir full.

“Gimana rasanya, puas nggak” tanya saya sambil mencium bibirnya yang indah itu.
“Ternyata enak juga making love sama Om Candra”
“Lain sama pacarnya Fanny, agak kasar sich” celotehnya sambil melepaskan pelukan saya dan memakai kembali CD dan BH-nya yang berwarna putih itu, setelah Fanny kembali memakai seragam sekolahnya dan tentu saya juga, jam telah menunjukkan pukul 11.45 siang.
“Sebagai tanda terima kasih, gimana kalau Om Candra kutraktir”
“Boleh saja, sekarang kita kemana?” tanya saya melihat Fanny menjalankan mobilnya menuju kota.
“Pulang dong” jawabnya manja.
“Lho, terus saya ngapain”
“Nanti kukenalin sama mamanya Fanny dan adiknya Fanny, mau nggak Om?”
“Okey..”

Ternyata Fanny tinggal di perumahan mewah, pantas bawanya mobil. Tampak seorang wanita yang anggun dan cantik berusia kurang lebih 47 tahun sedang membaca sebuah majalah. Tapi yang menarik perhatian saya, baju longdress yang dikenakannya dengan belahan atas yang rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang berwarna putih itu, mungkin lebih besar daripada punya Fannya, tingginya kira-kira 163 cm/50 kg.

“Selamat siang Bu” sapa saya sopan.
“Selamat siang Pak” jawabnya ramah sambil bersalaman dengan saya.
“Ini Ma, guru privat matematika Fanny yang baru, rencananya sich abis makan siang kita belajar”
“Oh ini to, yang namanya Pak Candra yang sering diceritain Fanny”
“E.. Eh.. Ya..” jawab saya tergagap-gagap karena begitu lihainya Fanny memperkenalkan saya sebagai guru privatnya, pelajaran matematika lagi, aduh.. gawat padahal saya tidak bisa apa-apa.

Setelah berbicara dengan ibunya mengenai les dan biaya tetek bengek lainnya, disepakati bahwa les privat cuma bisa saya lakukan dua minggu, itu pun harinya selang seling. Siang itu saya makan bersama Fanny setelah ditinggal ibunya pergi keluar dan baru pulang sore hari. Fanny sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos ketat khas ABG.

“Gila kamu Fanny, nanti kalau ketahuan ibumu gimana?”
“Tenang aja Om, mama itu jarang kok nyampurin urusan Fanny”
“Oh, gitu”
“Katanya Om mau ngajarin Fanny” goda Fanny penuh arti sambil mengerling nakal. Ini baru namanya surga dunia, setelah puas makan kami mengobrol sambil menonton film DVD yang dibawa Fanny.

Selama dua minggu itu sebelum Fanny akhirnya pindah ke Jakarta, kami sering making love tanpa sepengetahuan mamanya, pokoknya hampir tiap bertemu dengan berbagai posisi, yang sering di mobil, kamar tidur, kamar mCandra, bahkan di suatu acara ulang tahun mamanya, saya diundang.

“Gimana Can, ramai nggak ulang tahun mama saya?”
“Wah, ramai sekali, pasti papamu pejabat ya?”
“Ah enggak kok, Papa itu pengusaha”
“Oh gitu” jawab saya sambil memperhatikan Fanny yang malam itu memakai gaun yang sungguh indah, apalagi belahan atas gaunnya sungguh rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang putih itu, mungkin tidak pake BH, gaunnya yang berwarna hijau cuma sebatas di atas lutut.

Bahkan kalau Fanny duduk dan saya perhatikan gaun bawahnya, mungkin dengan sengaja Fanny membuka gaun bawahnya hingga memperlihatkan CD-nya yang berwarna merah muda itu. Wow, sungguh membuat si boy berontak, tapi saya pura-pura cool saja.

“Can, Fanny lagi pengin nich, gimana?” tanya Fanny tiba-tiba sambil mendekat pada saya.
“Kita cari ruangan yuk” ajak saya yang kebetulan tadi melihat ruangan dekat taman sedang kosong.
“Lho kok ke sini, apa tidak ke kamar?” tanya Fanny heran.
“Bosan ah di kamar, cari variasi lain, mau nggak?”
“Ayo, cepetan waktunya mepet nich” gandeng Fanny terburu-buru.
“Fanny, kamu malam ini can..” belum sempat saya berkata romantis sudah dipotong Fanny dengan ciumannya yang melumat bibir saya dengan ganas, kami pun berciuman dengan alot sambil tangan saya masuk ke belahan gaunnya dan meremas payudaranya dengan gemas.
“Mmh..” gumam Fanny karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir saya sambil tangannya membuka resleting celana panjang saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah berdiri sejak tadi.

Beberapa menit kami saling melakukan ciuman dan remasan hingga akhirnya Fanny mendorong saya perlahan.

“Ayo Can, buka celanamu” perintah Fanny sambil melepas CD saya dan Fanny mengambil posisi berjongkok untuk menghisap kontolku dengan sedotan yang agak keras.
“Pe.. Lan.. Aja..” pinta saya pada Fanny karena kerasnya hisapan Fanny hingga semua kontol saya masuk pada mulutnya. Beberapa menit telah berlalu dan saya sungguh tidak tahan dengan posisi tersebut.
“Gantian dong..” pinta saya pada Fanny sambil saya berjongkok dan membuka CD merah mudanya serta menghisap vaginanya dan mencari biji kacangnya, menghisap dan menjilat sampai dalam vaginanya hingga semakin banyak cairan yang keluar dan Fanny semakin merintih-rintih dalam posisi berdiri.
“Sst.. Isep.. Yang keras.. Can.. Sst..”
“Udah Can.. Sst.. Ayo..” rintihan dan celotehan Fanny meminta saya untuk memasukkan si boy ke dalam vaginanya.

Kami sekarang berdiri tapi Fanny menghadap ke tembok, saya singkap gaunnya dari belakang, dengan dibantu Fanny saya berusaha menyodokkan kontol saya dari belakang pantatnya. Akhirnya masuk semua kontol saya dalam vaginanya, sodokan demi sodokan dengan cepat membuat Fanny merintih meminta saya segera mengakhiri permainan itu, beberapa puluh menit kemudian..

“Sst.. Ayo.. Can.. Sst.. Keluarin..”
“Fanny udah pegel nich sst..” rintih Fanny lirih karena kami jarang melakukannya dalam posisi berdiri.
“Sst.. Aduh.. Akhkk..” Dan akhirnya croott.. croot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan dengan jeritan Fanny.

Itulah malam terakhir kami sebelum Fanny dan mamanya pindah ke Jakarta mengikuti tugas papanya yang saya dengar dipromosikan jadi general manager di sana. Selamat jalan Fanny, sampai ketemu lagi lain waktu


CLICK VIDEO >>> STREAMING BOKEP <<< CLICK VIDEO

CERITA SEX-NGENTOT-DENGAN-KEPONAKAN


Cerita seks, cerita dewasa, cerita bokep, bokep, cerita porno, cerita ngentot, cerita hot, cerita panas, cerita mesum, cerita desahan hot, ngentot hot, Cerita dewasa desahan, cerita sex tante tetangga rumah, cerita sex desahan hot, cerita desahan, cerita sex abg indo, cerita tante, cerita sex tante, cerita sedarah, cerita porno,  cerita sex pacar, ngentot paksa, cerita sex anal, cerita, cerita sex tentangga, cerita sex remaja, kisah bokep abg, cerita sex sekolah, cerita sex asia, bokep jepang, bokep mesum, bokep hot, bokep abg, bokep sma, bokep perawan, bokep tante, streaming bokep, bokep sange, bokep online, cerita sex ngentot, cerita sex sedarah, cerita sex bergambar, cerita sex terbaru, cerita sex artis, cerita sex pembantu, cerita sex jilbab, cerita sex perawan, cerita sex indonesia, cerita sex panas, cerita sex 18+, cerita sex memek, , cerita sex ibu, cerita sex mama