CERITA SEX – KAKAKKU MASTURBASI AKU AJAK NGENTOT

CERITA SEX-KAKAKKU-MASTURBASI-AKU-AJAK-NGENTOT
CERITA SEX-KAKAKKU-MASTURBASI-AKU-AJAK-NGENTOT

CERITA SEX – KAKAKKU MASTURBASI AKU AJAK NGENTOT


CERITA SEX – KAKAKKU MASTURBASI AKU AJAK NGENTOT – Namaku Putra. Aku adalah mahasiswa Saat ini aku kuliah semester II jurusan IT. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Mawar” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 4 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku.

Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Mawar saat ini bekerja disalah satu bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh.

Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.Dua bulan pertama aku tinggal dirumah Kak Mawar, semuanya berjalan normal. Aku dan Kak Mawar saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung Kak Mawar.

Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya Kak Mawar asyik nongkrongin Bioskop kesayangannya.

Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku,

“kok sesore ini Kak Mawar sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip Kak Mawar didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Mawar menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu.
Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling.

Napasku memburu, Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat Kak Mawar masih menindih batal guling.

Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.

Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…
Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Mawari mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu.

Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku Kak Mawar didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan Kak Mawar yang semakin cepat.

Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh Kak Mawar nampak berguncang beberapa saat, jemari Kak Mawar mencengkram seprai.Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri.

Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku.Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi.

Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian.
Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama Kak Mawar.

Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh Kak Mawar yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras.Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap Kak Mawar mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat Kak Mawar sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….!
. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh Kak Mawar. . !

“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata Kak Mawar sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan.
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata Kak Mawar. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.
“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.
“Periksa semua kunci rumah ya Put kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.

Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.Setelah memastikan Kak Mawar pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang MiniCamera kekamar Kak Mawar, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.

Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak.Aku selalu menunggu saat-saat dimana Kak Mawar bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Mawar. Aman ! sejauh ini Kak Mawar tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.

Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Kak Mawar masih duduk di ruang tamu sambil nonton TV,
“Mau kemana Put ?”,
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci.

“Jangan dulu dikunci, temen Kak Mawar ada yang mau kesini !”,
“Mau kesini ? siapa kak ?”,
“Sinta…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Sinta ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.

Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 11.00 malam, ya ampun aku memang ketiduran.
Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya Kak Mawar udah pulang kali ?!.

Kunyalakan TV, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?! Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan.
Apa yang akan dilakukan Kak Mawar dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau Kak Mawar ternyata menyukai sesama jenis (Lesbian). Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.

Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.
Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Dewi dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana.

Sementara kuperhatikan tangan Kak Mawar nampaknya mengelus-elus pinggang kak Sinta, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum.
Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.

Sesaat kak Sinta nampak menelusuri leher Kak Mawar dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri.
Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi Kak Mawar yang pasrah tengadah, sementara kak Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat Kak Mawar diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.

Kemudian Kak Mawar berpindah menciumi dada kak Sinta, sekarang baru nampak jelas wajah kak Sinta. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari Kak Mawar. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.
Kak Mawar benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Sinta.

Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !
Tiba-tiba aku lihat kak Sinta mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Dewi.
Beberapa saat mereka berpelukan.

Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.
Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu Kak Mawar membaringkan badanya. Terlentang. Kak Sinta menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh.
Kak Mawar kelihatan protes, tapi protes Kak Mawar dibalas dengan lumatan bibir kak Sinta.

Kak Sinta kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri.
Kak Mawar nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Sinta nampak lebih terampil dari Kak Mawar, hampir setiap inci tubuh Kak Mawar dijilati dan dikecupnya.

Kak Sinta kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki Kak Mawar. Tangan kanan Kak Mawar mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Tubuh kak Sinta kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha Kak Mawar. Kak Sinta menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul Kak Mawar, sehingga tubuh bagian bawah Kak Mawar makin terangkat.

Kepala Kak Mawar terjepit persis diantara selangkangan Kak Mawar.
Sebelah tangannya meremas-remas payudara Kak Mawar. Aku lihat tubuh kak Dewi mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin Kak Mawar menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya.

“Kak Mawarrrr… kak Sinta……, ini Putra… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
Semakin lama Kak Mawar kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta.
Semakin lama gerakan Kak Mawar semakin liar, lalu pessss,

Dor ! Dor ! Dor !
“Putraa… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.
“Bangun…!”, suara Kak Mawar kembali terdengar.
“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki Kak Mawar menjauh dari pintu kamarku.
Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !

Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi.bergegas kekamar mandi. dan Turun ke ruang makan
Didekat ruang makan aku berpapasan dengan Kak Mawar yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek Kak Mawar yang belum kering benar jelas terlihat.

“Apa senyam-senyum gitu ?”, v menatapku heran.
“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum.
Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.
“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata Kak Mawar sambil meletakan piring yang dipegangnya.

“Jorokan juga Kak Mawar, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !
“Ikutan Indonesian Idol dong Putr !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Sinta.
“Eh, maaf kirain gak ada kak Sinta, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.
Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut.

“Nih buruan, sarapan dulu !”, Kak Mawar yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai.
“Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin.
“Tumben dihabisin ?”, kata Kak Mawar melihat aku makan dengan lahap.
“Abis enak sih !”,

“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,
“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan Kak Mawar
“Alah… emang biasanya gitu kok !”, Kak Mawar memotong ucapanku. Kak Sinta hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya.
Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu.

Seminggu berlalu, Pikiranku kotor terus. Terbayang Kak Mawar dan kak Sinta. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok Kak Mawar. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya.
Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau.

Aku begitu terobsesi dengan Kak Mawar. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan Kak Mawar. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!
Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang, kadang aku menciumi CD dan BH kotornya

Aku terlentang diatas spring bad Kak Mawar. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Dewi. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah.

Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Mawar Pulang !!!
Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue

“Putraa…! Ngapain kamu ?”, mata Kak Mawar menatapku tajam.
“ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat.
Napasku tercekat manakala menyadari tatapan Kak Mawar ke atas tempat tidur, celana dalam Kak Mawar, langerie Kak Mawar, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan!

Kak Mawari menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Mawar pastinya dapat menebak kelakuanku.
“Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi Kak Mawar tak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar.
Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka.
Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar Kak Mawar !

“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding.
“Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah,
Lalu, aku Ke kamar langsung tidur, Tak peduli siapa yang memanggil

Besoknya, suasana masih terasa amat hambar.
Kak Mawar tak mengucap sepatah katapun. dan aku memberanikan diri untuk memulai percakapan duluan,
“Kak, maafin Putra yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.
Kak Mawar tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya.
Entahlah.

Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu Kak Mawar diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi.

Pantat Kak Mawaryang  begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang sexy.
“Bikin minum dong, haus nih…!”, v membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang tubuhnya.
“Jeruk, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.
Kak Mawar merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.

“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,
“Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas.
“Takut gak abis”, katanya !
“Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan.

“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, Kak Mawar berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV.
“Kebiasaan Putara mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah,
Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah Kak Mawar. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali.

Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.
“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.
“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.
“ng…mmmm kenapa Putra akhir-akhir jadi aneh yah ?”,
“Maksudnya apa ?”,
“Tapi Kak Mawar jangan marah yah !”,
“Akhir-akhir ini, Putra sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja.
Gak siang gak malem, pusing deh !”,
“Mikirin apa sih ?”,

“Ah Maksud Putra… tapi jangan marah yah. Rasanya Putra gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah Kak Mawar.
“Kebanyakan nonton film gak jelas kali.!”,
“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.

”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak Kak Mawar agak gusar menimpali pertanyaanku.
“Kalau kata temen aku sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,
“Sebenarnya gara-gara Kak Mawar sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, Kak Mawar bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.

“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”,
“Maksud Putra apa sih…? Kakak jadi pusing !”,
“Putra tahu rahasia Kak Mawar !”,
“Rahasia apa ?”,

“Kak Mawar suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”,
“Kamu ngintip ?”,
“Gak sengaja sih…!”,
“Tapi tenang aja. Rahasia kak mawar aman kok ditangan Putra.
“Tenang aja. Putra gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,“Putra tahu semuanya ?”,
“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah.
Please !”, Kak Mawar mengguncang bahuku.
“Tenang…pokoknya aman !”,

Tiba-tiba terdengar dering telp,
“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.
“Hallo…!”, kataku
“Ini Putra yah ?, Kak Mawar ada ?”, suara itu terdengar lembut.
“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.
“Ini Sinta…Kak Mawar-nya ada ?”,
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.

“Kak… ini kak Sinta !”, kataku pada Kak Mawar. Kulihat tiba-tiba expresi Kak Mawar menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.
“Haloo..”,
Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.

Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki Kak Mawar di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara Kak Mawar.
Aku terdiam, menunggu. “Putra…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.
Tanpa kupersilahkan kak Dewi menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Putra…”, Kak Mawar tiba-tiba memecahkan keheningan.
Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.

 Lalu aku duduk dihadapan Kak Mawar. “Putra bisa pegang rahasia kan ?”,
“Masalah apa ?”,
“Sinta…!”,
“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.
“Jangan sampai Mamah tahu !’,
Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.

“Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam.
“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.
“Putra boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,
“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.

“Putra mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Dewi mencoba bernegosiasi, he he….
“ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada Kak Mawar, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Dewi sungguh dinterpretasikan oleh Kak Mawar.

“Kakak tahu kok apa yang Putra inginkan, sini…!”, Kak Mawar menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.
“Sini….!”, katanya mengulang.
Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut Kak Mawar mengusap punggung tanganku.

Lalu ia meraih telapak tanganku.
Jemari tanganku digenggamnya.
“Pasti Putra sekarang lagi Kak Mawar !”, tiba-tiba kak Dewi berkata datar,
“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.
“Pake pura-pura lagi !”, kak Dewi mendorong tubuhku.

Karena Kak Mawar mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai.
“Putra pengen ini kan ?”, jemari kak Dewi merayapi pahaku.
Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian Kak Mawar tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi.
“Kak…”, kataku lirih

“sst…kakak tahu apa yang Putra inginkan, tenang aja…”, Kak Mawar benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu.
“Pake malu-malu lagi !”, Kak Mawar memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan Kak Mawar. “Ah…shhh..kak….!”,

Tanganku perlahan merayap kearah pinggang Kak Mawar, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba Kak Mawar menghentikan remasan tanganya.
“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.
“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.

Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…
Nampak ada rasa jengah pada tatapan Kak Mawar, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan Kak Mawar agar menjamah kemaluanku. Akhirnya tak urung Kak Mawar menuruti kemauanku.

Kembali kuhempaskan tubuh, lalu menunggu Kak Mawar melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut dan halus Kak Mawar menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak dewi mulai meramas kemaluanku dengan perlahan.

Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang.
Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.

lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada Kak Mawar.
“Apa ini ?”,
Meski terlihat ragu, perlahan Kak Mawar meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya, menumpahkannya ditangan kanannya.
Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh..
“Maafin Putra ya kak !”,

“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya.
“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.
“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,
“Begini…!”,

“Ya…ah… shhh… Kak Mawar…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Mawar sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa kuminta Kak Mawar telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang kuinginkan.
Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.

“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,
Aku terus merintih dan merintih. Kak Mawar benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku.
Makin lama makin ngilu.

“kenapa ? udah ?”, Kak Mawar bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.
Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Mawar terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kemaluanku dari cairan handbody.
Kami terdiam, beberapa saat.

“Tahu enggak sebenarnya Putra suka pake bantal guling. Seperti Kak Mawar !”,
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk Kak Mawar !”.
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.

“Kak Mawar…!”,
‘Apa..?”,
‘Tanggung nih !”,
“Tanggung apanya ?”,
“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,
“Apalagi nih !”,

“Putra gak tahan nih. Tapi Kak Mawar gak usah khawatir.
“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.
“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,
“Berbaring dulu Kak Mawar-nya. Pokonya aman deh.

Tedy gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh Kak Mawar.
Kak Dewi tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang.

Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak.

Lalu aku mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha Kak Mawar. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan Kak Mawar kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup tubuh Kak Mawar yang masih terbungkus Langerie…

”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu Kak Mawar. Aku semaki berani karena Kak Mawar membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha Kak Mawar. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan Kak Mawar. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak.

Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak v. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, tubuh Kak Mawar ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku..
Kemaluanku terus menggesek-gesek kemaluan Kak Mawar. Dan terus bergoyang-goyang berirama.

“Kurang keatas…sakit tahu !”, suara Kak Mawar terdengar memburu.
Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha Kak Mawar bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa.
“Pelan…pelan…”, ia mendesis,

“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. v terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku.
Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam Kak Mawar.
“Mau apa ?”,
“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.
“Please !”, kataku. Akhirnya Kak Mawar menurut.

Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi Kak Mawar. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada kemaluan wanita.

Sungguh sensasinya luar biasa.
Kemaluanku mengarah kebawah, terjepit diantara paha Kak Mawar. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat.

Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Dewi awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat.
Semakin lama segalanya semakin liar.

Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Dewi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Dewi mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat kak Dewi menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar.
Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Mawar.

Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Dewi. Kemudian Bra yang dikenakannya. Kini tubuh kak Dewi tak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak mawar.

Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya, semakin kak mawar merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa terasa aku mulai menjilati tubuh kak Dewi bagian bawah.

Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Dewi merintih dan melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar.
Pokonya semakin keras rintihan Kak Mawar semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha Kak Mawar. Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan Kak Mawar.

Meskipun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian kemaluan Kak Mawar. Aku bahagia mendengar kak Dewi Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian Kak Mawar menarik kepalaku.

“Sudah-sudah ! ngilu !”,
“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?
Nafas Kak Mawar tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju Kak Mawar, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh Kak Mawar.
“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.

Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara Kak Mawar. Kedua tangan Kak Mawar membelai-belai rambutku.
Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh Kak Mawar. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau…

“Jangan !”, Kak Mawar menahan tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu.
“Jangaaaaannn… please ! Putra jangan !”,Kak Mawar memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.
“Putra udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,
“Tapi putra udah janji, gak bakalan merusak.!”, Kak Mawar menghiba.
“Putra udah gak tahannnnnn….shhhh !”,

“Kak Mawar juga sama. Yasudahh masukkan cepatt Ohh shhhtt ahh !”,Kak Mawar berbisik dengan nafas memburu.
“Langsung kumasukan perlahan dan kugoyang pantat Kak Mawar Dengan Sedikit kencang”
” Ahhhh Shhhttthh Ahhhh Ohhh ohhhh ahhh ” Kak Mawar Merancau Keenakan dann memainkan payudaranya.
“ Semakinn kugoyang tanpa ampun, Ohhhh Sshhht Oghhhh Enakk Sayangg Genjott kakakmu ini” Mulai Kak Mawar Berkata Agak Kotor

“ Ohhhhhhhhh Kakakk udahhh mau Orgasmmee ni sayangg ahhhhhh……” kupercepat goyangan ku dan kubenam dalam dalam Kontolku dimemek Mawar
“ Ahhhhhhhhh Kakak Keluar Dekk,Tak lamaa aku merasakan ingin Mencapai Kenikmatan juga”desisku
“Putra pengen keluarr didalamm kak, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.
Karena tak dilarang, aku langsung mengeluarkan Maniku didalam memek dia dan mengoyangnya pelan “Ohhhhh Ahh Shhtttttt ah “

 

Aku terkapar Diatas tubuh Kak Mawar. Terdiam beberapa saat, sebelum v mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk Kak Mawar berlama-lama. Tapi Kak Mawar buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang basah berlumuran ditinggalkannya !

Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika Kak Mawar “kepengen” maka kami akan melakukannya.
Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta, sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi Kak Mawar, aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku. Dan mudah-mudahan akan tetap saperti itu.


CLICK VIDEO >>> STREAMING VIDEO <<< CLICK VIDEO

CERITA SEX-KAKAKKU-MASTURBASI-AKU-AJAK-NGENTOT


Cerita seks, cerita dewasa, cerita bokep, bokep, cerita porno, cerita ngentot, cerita hot, cerita panas, cerita mesum, cerita desahan hot, cerita sex hot, Cerita dewasa desahan, cerita sex tante tetangga rumah, cerita sex desahan hot, cerita desahan, cerita sex indo, cerita tante, cerita sex tante, cerita sedarah, cerita porno, cerita sex pacar, cerita sex paksa, cerita sex anal, cerita, cerita sex tentangga, kisah sex remaja, cerita sex bokep, cerita sex sekolah, cerita sex asia, bokep jepang, bokep mesum, bokep hot, bokep abg, cerita sex sma, cerita sex perawan, bokep tante, streaming bokep, cerita sex sange, cerita sex sedarah, cerita sex online, cerita sex tante sange, cerita sex orgasme, cerita sex sepupu, cerita sex sedarah